Gaya Blusukan Khalifah Umar RA.


Akhir-akhir ini sangat populer istilah blusukan. Blusukan dalam bahasa Jawa berarti masuk-masuk ke pelosok. Sebenarnya bagi orang awam blusukan sangat wajar. Namun, bagaimana kalau seorang pemimpin yang melaksanakannya?

Berikut ini cuplikan blusukan khalifah Umar ra. dimasa kepemimpinannya. Tapi, blusukan Umar ini tidak direkam oleh reporter-reporter televisi, melainkan oleh sahabat, tabi'in, dan tabi'it tabi'in; semoga Allah senantiasa memuliakan mereka.

Thalhah bin Ubaidillah berkata, "Suatu ketika Umar ra. keluar dalam kegelapan malam dan masuk ke salah satu rumah, maka pada pagi hari aku mencari rumah tersebut dan aku datangi,


ternyata dalam rumah itu terdapat seorang perempuan tua yang buta sedang duduk. Aku tanyakan kepadanya, "Mengapa lelaki ini (Umar ra.) datang ke rumahmu?" Wanita itu menjawab, "Ia selalu mengunjungiku setiap beberapa hari sekali untuk membantuku membersihkan dan mengurus segala keperluanku." Aku berkata kepada diriku, "Celakalah dirimu wahai Thalhah, kenapa engkau memata-matai Umar ra.?"
***

Aslam Maula Umar berkata, "Pernah datang ke Madinah satu rombongan saudagar, mereka segera turun di mushalla, maka Umar ra. berkata kepada Abdurrahman bin Auf, 'Bagaimana jika malam ini kita menjaga mereka?' Abdurrahman berkata, 'Ya, aku setuju!' Maka keduanya menjaga para saudagar tersebut sepanjang malam sambil shalat.

Namun tiba-tiba Umar ra. mendengar suara anak kecil menangis, segera Umar ra. menuju tempat anak itu dan bertanya kepada ibunya, 'Takutlah engkau kepada Allah SWT. dan berbuat baiklah dalam merawat anakmu.' Kemudian Umar ra. kembali ke tempatnya. Kemudian ia mendengar lagi suara bayi itu dan ia mendatangi tempat itu kembali dan bertanya kepada ibunya seperti pertanyaan beliau tadi. Setelah itu Umar ra. kembali ke tempatnya semula.


Di akhir malam dia mendengar bayi tersebut menangis lagi. Umar ra. segera mendatangi bayi itu dan berkata kepada ibunya, 'Celakalah engkau, sesungguhnya engkau adalah ibu yang buruk, kenapa aku mendengar anakmu menangis sepanjang malam?' Wanita itu menjawab, 'Hai tuan, sesungguhnya aku berusaha menyapihnya dan memalingkan perhatiannya untuk menyusu tetapi dia masih tetap ingin menyusu.' Umar ra. bertanya, 'Kenapa engkau akan menyapihnya?' Wanita itu menjawab, 'Karena Umar ra. hanya memberikan jatah makan terhadap anak-anak yang telah disapih saja.' Umar ra. bertanya kepadanya, 'Berapa usia anakmu?' Dia menjawab, 'Baru beberapa bulan saja.' Maka Umar ra. berkata, 'Celakalah engkau kenapa terlalu cepat engkau menyapihnya?

Maka ketika shalat subuh bacaan beliau nyaris tidak terdengar jelas oleh para makmum disebabkan tangisnya. Beliau berkata, 'Celakalah engkau hai Umar berapa banyak anak-anak bayi kaum muslimin yang telah engkau bunuh.' Setelah itu ia menyuruh salah seorang pegawainya untuk mengumumkan kepada seluruh orang, Janganlah kalian terlalu cepat menyapih anak-anak kalian, sebab kami akan memberikan jatah bagi setiap anak yang lahir dalam Islam.' Umar ra. segera menyebarkan berita ini ke seluruh daerah kekuasaannya." (1)
***

Aslam berkata, "Pernah suatu malam aku keluar bersama Umar ra. ke luar kota Madinah. Kami melihat ada sebuah tenda dari kulit, dan segera kami datangi, ternyata di dalamnya ada seorang wanita sedang menagis. Umar ra. bertanya tentang keadaannya, dan dia menjawab, 'Aku adalah seorang wanita Arab yang akan bersalin (melahirkan) sedang tidak memiliki apapun.' Umar ra. menangis dan segera berlari menuju rumah Ummu Kaltsum binti Ali bin Abi Thalib -istrinya-, dan berkata, 'Apakah engkau mau mendapatkan pahala yang akan Allah SWT. karuniakan kepadamu?' Segera Umar ra. memberitakan padanya mengenai wanita yang dilihatnya tadi, maka istrinya berkata, 'Ya, aku akan membantunya.'

Umar ra. segera membawa satu karung gandum beserta daging di atas bahunya, sementara Ummu Kaltsum membawa peralatan yang dibutuhkan untuk bersalin, keduanya berjalan mendatangi wanita tersebut. Sesampainya di sana Ummu Kaltsum segera masuk ke tempat wanita itu, sementara Umar ra. duduk bersama suaminya - yang tidak mengenal Umar ra. - sambil berbincang-bincang.

Akhirnya wanita itu berhasil melahirkan seorang bayi. Ummu Kaltsum berkata kepada Umar ra., 'Wahai Amirul mukminin sampaikan berita gembira kepada suaminya bahwa anaknya yang baru lahir adalah lelaki. Ketika lelaki itu mendengar perkataan Amirul Mukminin ia merasa sangat kaget dan minta maaf kepada Umar ra.. Namun Umar ra. berkata kepadanya, 'Tidak mengapa.' Setelah itu Umar ra. memberikan kepada mereka nafkah dan apa yang mereka butuhkan lantas beliau pun pulang.
***

"Aslam berkata, "Suatu malam aku keluar bersama Umar bin al-Khaththab ra. ke dusun Waqim. Ketika kami sampai  di Shirar (sebuah sumur yang berjarak sekitar 3 mil dari kota Madinah, menghadap ke kampung) kami melihat ada api yang dinyalakan. Umar ra. berkata, 'Wahai Aslam di sana ada musafir yang kemalaman, mari kita berangkat menuju mereka.' Kami segera mendatangi mereka dan ternyata di sana ada seorang wanita bersama anak-anaknya sedang menunggu periuk yang diletakkan di atas api, sementara anak-anaknya sedang menangis.

Umar ra. bertanya, 'Assalamu'alaiki wahai pemilik api.' Wanita itu menjawab, 'Wa'alaikas-Salam'. Umar ra. berkata, 'Kami boleh mendekat?’ Diamenjawab, 'Silahkan!’ Umar ra. segera mendekat dan bertanya, 'Ada apa gerangan dengan kalian?' Wanita itu menjawab, 'Kami kemalaman dalam perjalanan serta kedinginan.' Umar ra. kembali bertanya, 'Kenapa anak-anak itu menagis?’ Wanita itu menjawab, 'Karena lapar.' Umar ra. kembali bertanya, 'Apa yang engkau masak di atas api itu?’ Dia menjawab, Air agar aku dapat menenangkan mereka hingga tertidur. Dan Allah SWT. kelak yang akan jadi hakim antara kami dengan Umar ra..'

Maka Umar ra. menangis dan segera berlari pulang menuju gudang tempat penyimpanan gandum. la segera mengeluarkan sekarung gandum dan satu ember daging, sambil berkata, 'Wahai Aslam naikkan karung ini ke atas pundakku.' Aslam berkata, 'Biar aku saja yang membawanya untukmu.' Umar ra. menjawab, 'Apakah engkau mau memikul dosaku kelak di hari Kiamat?’

Maka beliau segera memikul karung tersebut di atas pundaknya hingga mendatangi tempat wania itu. Setelah meletakkan karung tersebut beliau segera mengeluarkan gandum dari dalamnya dan memasukkannya ke dalam periuk. Setelah itu ia memasukkan daging ke dalamya. Umar ra. berusaha meniup api di bawah periuk hingga asap menyebar di antara jenggotnya untuk beberapa saat. Setelah itu Umar ra. menurunkan periuk dari atas api dan berkata, 'Berikan aku piring kalian!'.

Setelah piring diletakkan segera Umar ra. menuangkan isi periuk ke dalam piring itu dan menghidangkannya kepada anak-anak wanita itu dan berkata, 'Makanlah!’ Maka anak-anak itu makan hingga kenyang, wanita itu berdoa untuk Umar ra. agar diberi ganjaran pahala sementara dia sendiri tidak mengenal Umar ra.. Umar ra. masih bersama mereka hingga anak-anak itu tertidur pulas. Setelahitu Umar ra. memberikan kepada mereka nafkah lantas pulang. Umar ra. berkata kepadaku, 'Wahai Aslam sesungguhnya rasa laparlah yang membuat mereka begadang dan tidak dapat tidur'."(2)
***

(1) Dikeluarkan oleh Ibnu Sa'ad dalam Thabaqat, 3/302 dengan sanadnya dari jalan Abdullah bin Umar.
(2) Dikeluarkan oleh Ahmad dalam kitab Fadhailas-Shahabah, no. 382 dan Muhaqq/q kitab itu berkomentar, "sanadnya Hasan."

sumber:
Al Hafizh Abul Fida' Ibnu Katsir dalam Al Bidayah wan Nihayah.

0 Response to "Gaya Blusukan Khalifah Umar RA."

Posting Komentar

Silahkan berkomentar